pose bersama di sela kuliah

pose bersama di sela kuliah
kuliah kv

adil

adil
kuliah kv

jujur

jujur
kuliah kv

Kamis, 01 Juli 2010

MITRAL STENOSIS

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN MITRAL STENOSIS
Definisi
Mitral stenosis dapat diartikan sebagai blok aliran darah pada tingkat katup mitral, akibat adanya perubahan struktur mitral leaflets, yang menyebabkan tidak membukanya katup mitral secara sempurna pada saat diastolic (Manurung, 1998).
Berkurangnya ukuran pembukaan katup mitral (< 2 cm2) yang menimbulkan gangguan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri saat diastole (Boestan, 2006).
Penebalan progresif dan pengerutan bilah-bilah katup mitral, yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif aliran darah. Pembukaan katup mitral normal selebar tiga jari. Pada kasus stenosis berat terjadi penyempitan lumen sampai selebar pensil (Muttaqin, 2009).
Etiologi
Penyebab utama adalah demam rematik. Penyebab lainnya adalah kelainan kongenital, komplikasi dari karsinoid malignan, SLE, arthritis rheumatoid, dan proses penuaan.
Patofisiologi
Stenosis mitral menghalangi aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri selama fase diastolic ventrikel. Untuk mengisi ventrikel dengan adekuat dan mempertahankan curah jantung, atrium kiri harus menghasilkan tekanan yang lebih besar untuk mendorong darah melampaui katup yang menyempit. Karena itu selisih tekanan atau gradient tekanan antara dua ruang tersebut meningkat. Dalam keadaan normal selisih tekanan tersebut minimal.
Pada MS ringan, darah dapat mengalir dari atrium kiri bila ada perbedaan tekanan yang abnormal meskipun kecil. Pada MS yang kritis, perbedaan tekanan atrioventrikuler sekitar 20 mmHg diperlukan untuk mempertahankan curah jantung yang normal saat istirahat. Peningkatan tekanan atrial kiri tersebut akhirnya akan meningkatkan tekanan kapiler dan vena pulmonal sehingga timbul dipsnea. Dispnea biasanya dipresipitasi oleh takikardia akibat latihan, stress emosional, hubungan seksual, infeksi, kehamilan atau atrial fibrilasi (AF).

Perubahan anatomis
Perubahan anatomis pada stenosis mitral dapat terjadi pada (Manurung, 1998):
1. Komisura, menyebabkan saling mendekat satu sama lain dan bentuknya akan berubah.
2. Cups, daun katup, menjadi menebal serta berubah kearah jaringan fibrosa.
3. Chordae tendinae menebal. Memendek serta dapat saling melekat.

Komplikasi
Komplikasi mitral stenosis antara lain (Manurung, 1998):
1. Fibrilasi atrium
2. Emboli sistemik
3. Hipertensi pulmonal dan dekompensasi jantung
4. Endokarditis
Pengkajian body system
1. B1: Breath
Didapatkan dipsnea, ortopnea, hyperpnea, riwayat infeksi saluran nafas, ronki, suara parau, hemoptisis.
2. B2: Blood
Denyut nadi lemah dan sering tidak teratur. Takikardia, murmur, sianosis, bunyi jantung dua dapat mengeras disertai bising sistole karena adanya hipertensi pulmunal, CVP meningkat, gambaran EKG dapat terlihat P mitral, fibrilasi artrial dan takikardia ventrikel. pulsus perifer kecil bila stroke volume berkurang. Hipertropi ventrikel kanan. Keluhan nyeri dada.
3. B3: Brain
Kesadaran: compos metis, gelisah.
4. B4: Bladder
Oligoria bila terjadi penurunan perfusi ke renal. Produksi urine juga bisa normal 0,5-1cc/kgbb/jam.
5. B5: Bowel
konstipasi
6. B6:
Keluhan lelah, edema perifer, kulit pucat, lembab, sianosis, diaporesis
Pemeriksaan penunjang
1. EKG
P mitral (pembesaran atrium kiri), deviasi aksis ke kanan, hipertropi ventrikel kanan, atrial fibrilasi.
2. Foto rontgen dada
Dilatasi atrium kiri, pembesaran arteri pulmonal, atrium dan ventrikel kanan pada MS berat, kalsifikasi katup mitral, tanda-tanda bendungan vena pulmonalis, edema interstitial, edema paru (bat wing appearance).
3. Laboratorium
Pemeriksaan khusus untuk menegakkan ada tidaknya reuma aktif, leukositosis, ASTO, CRP.
4. Ekokardiografi
Menentukan derajat MS dari area katup mitral, mengukur dimensi atrium kiri dan ventrikel kanan, karakteristik katup mitral (dooming), skor katup mitral dan apparatus (skor wilkins/ metode French), ada tidaknya thrombus di atrium kiri, menegakkan derajat hipertensi pulmonal, kelainan katup lainnya yang menyertai, kontraktilitas ventrikel kiri.
5. Ekokardiografi transesofageal
Dilakukan bila ada keraguan kemungkinan adanya thrombus.
6. Kateterisasi
Mengukur beda tekanan antara atrium dan ventrikel kiri, menentukan derajad hipertensi pulmonal, angiografi korener bila usia penderita ≥ 40 tahun, mengevaluasi adanya ketidaksesuaian antara klinis dan ekokardiografi.
Penatalaksanaan
Pengelolaan medik
a. Obat-obatan untuk mengatasi gangguan akibat adanya obstruksi mekanis
• Beta bloker untuk memperpanjang waktu pengisian diastolic
• Diuretik, restriksi garam
• Digitalis bila diperlukan terutama pada AF yang permanen
• Antikoagulan bila ditemukan AF
• Antiaritmia (amiodaron, beta bloker, ca antagonis)
b. Obat-obatan pencegahan sekunder demam reumatik
c. Terapi untuk pencegahan terhadap endokarditis infektif
d. Terapi terhadap anemia, infeksi, hindari aktifitas yang berat.
Pengelolaan intervensi
1. Intervensi non bedah: Valvotomy (percutaneous ballon mitral valvuloplasty/BMV) atau (percutaneous transluminal mitral commisurotomy [PTMV)
a. Indikasi :
1) Pasien simtomatik (NYHA fungsional klas II, III atau IV), MS sedang atau berat (MVA ≤ 1.5 cm2) dan morfologi katup menguntungkan untuk PTMC tanpa adanya thrombus di atrium kiri atau MR berat.
2) Pasien asimtomatik dengan MS sedang atau berat (MVA ≤ 1.5 cm2) dan morfologi katup menguntungkan untuk PTMC dengan hipertensi pulmonal (PASP > 50 mmHg saat istirahat atau 60 mmHg saat aktivitas) tanpa adanya adanya thrombus di atrium kiri atau MR sedang-berat.
3) Pasien dengan NYHA fungsional klas III dan IV, MS sedang atau berat (MVA ≤ 1.5 cm2) dan kalsifikasi katup nonpliable yang resiko tinggi untuk pembedahan tanpa adanya thrombus di atrium kiri atau MR.
b. Kontraindikasi :
1) Bukti objektif adanya thrombus di atrium kiri atau mendekati ke katup mitral, melekat di septum.
2) Regurgitasi mitral derajat III atau lebih
3) Endokarditis infektif
4) TR berat (relative)
5) Nilai skor Wilkins katup mitral > 10 (relative)
2. Intervensi bedah
Bisa dilakukan secara terbuka atau tertutup.
Indikasi
a. Bila ditemukan kontraindikasi untuk dilakukan intervensi non bedah dan terdapat ketrampilan atau pengalaman bedah yang baik.
b. MS sedang-berat, simtomatik, dan PTMC tidak tersedia.
Jenis intervensi bedah
a. Reparasi katup mitral
b. Penggantian katup mitral
Macam-macam katup:
a. Katup bioprotesa
1) Pasien yang tidak dapat menerima (kontraindikasi) warfarin
2) Pasien ≥ 65 tahun yang tidak memiliki resiko tromboemboli
b. Katup mekanik
1) Penderita dengan harapan waktu hidup masih panjang
2) Pasien yang telah mendapat protesa katup mekanik pada katup lainnya (operasi yang kedua kalinya)
3) Laki-laki
4) Penderita dianjurkan memakai antikoagulan sepanjang umur.
Diagnosis keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan perembesan cairan, kongesti paru sekunder dari perubahan membrane kapiler alveoli
2. Ketidakefektif bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mucus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal atau faringeal.
3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan penurunan curah jantung ke jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

Boestan, Iwan N. & Baktijasa, Budi. 2006. Penyakit Jantung Katup dalam Standar Diagnosis dan Terapi Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Surabaya. SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FK Unair RSU dr. Soetomo
Engram,Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2 (alih bahasa Suharyati Samba). Jakarta. EGC
Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta. Salemba Medika.
Manurung, D. 1998. Penyakit Katup Mitral dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam Jilid I edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit FKUI
Gulanick & Myers. 2009. Nursing Care Plans: Nursing Diagnosis and Interventions. Fifth edition. www.mosby.com/MERLIN/gulanick. diakses tanggal 20 Desember 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar