pose bersama di sela kuliah

pose bersama di sela kuliah
kuliah kv

adil

adil
kuliah kv

jujur

jujur
kuliah kv

Sabtu, 29 Mei 2010

KEPERAWATAN KARDIOMIOPATI

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KARDIOMIOPATI KONNGESTIF (DILATED CARDIOMYOPATHY)


I. PENGERTIAN
Kardiomiopati adalah suatu penyakit miokard yang menyerang otot jantung (Myocard) dan penyebab tidak diketahui. Penyakit ini dapat ditemukan pada semua jenis kelamin pria dan wanita, pada semua golongan umur (Ruhyanudin F, 2006, hal 73).

Kardiomiopati kongestif disebut juga dengan nama Dilated Cardiomyopathy (A.H Markum, dkk, hal 615). Bentruk kardiomiopati ini digolongkan berdasarkan patologi, fisiologi dan tanda klinisnya. Penyakit ini ditandai dengan adanya dilatasi atau pembesaran rongga ventrikel bersama dengan adanya penipisan dinding otot, pembesaran atrium kiri dan stasis darah dalam ventrikel (Smeltzer SC, 2002, hal 833).

II. ETIOLOGI
Laporan gugus tugas WHO/ISFC tentang definisi dan klasifikasi kardiomiopati tahun 1980, berdasarkan etiologinya digolongkan menjadi 2 macam yaitu :
1. Tipe primer: terdiri dari penyakit otot jantung yang tidak diketahui penyebabnya.
a. Idiopatik
b. Familial

2. Tipe sekunder: terdiri dari penyakit otot jantung dengan sebab yang diketahui atau berhubungan dengan penyakit yang mengenai system organ lain
a. Infektif
 Miokarditis virus
 Miokarditis bakteri
 Miokarditis jamur
 Miokarditis protozoa
 Miokarditis metazoan

b. Metabolik
c. Penyakit familial
 Penyakit glikogen
 Mukopolisakaridosis

d. Defisiensi
 Elektrolit
 Nutrisi

e. Kelainan jaringan ikat
 Lupus eritematosis sistemik
 Poliartritis nodusa
 Arthritis rheumatoid
 Scleroderma
 Dermatomiositis
 Dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri dan kanan
 Curah jantung menurun
 Angiografi : berkesan ventrikel kiri hipokinetik difus serta dilatasi, sering disertai dengan regurgitasi mitral.
 Biopsi Endomiokard transvenus
Digunakan pada kondisi seperti infiltrasi miokard oleh amiloid
Berkesan inflamasi sel bundar miokardium

f. Komplikasi
 Gagal jantung
 Sinkope
 Aritmia
 trombosis
(Smeltzer SC, 202, hal 251)

3. Penatalaksanaan
a. Tirah baring (terutama untuk penyebab yang tidak diketahui)
b. Menghindari aktivitas jasmani yang berat
c. Medikamentosa :
 Anti Koagulan Untuk Embolisasi Sistemik
 Kardiotonika: Amrinon dan Milrinon untuk menambah perbaikan klinik
 Kortikosteroid untuk anti inflamasi
 Anti aritmia untuk aritmia yang serius atau simtomatis
d. Tranplantasi jantung, harus dipertimbangkan dan dilakukan bila tidak ada kontra indikasi terhadap prosedur tersebut (Rilantono LI, dkk, 2001, hal 251)

III. PENGKAJIAN
1. Type 1
Jantung dapat membesar sekali, bunyi jantung ke 3 dan 4 dapat terdengar

2. Type 2
a. Pembesaran jantung ringan
b. Pada apek teraba getaran sistolik dan kuat
c. Bunyi jantung ke 4 biasanya terdengar
d. Bising sistolik yang mengeras pada tindakan valsava

3. Type 3
a. Pembesaran jantung sedang
b. Bunyi jantung ke 3 dan ke 4
c. Regurgitasi mitralis atau trikuspidalis

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan kerusakan otot miokard
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongestif pulmonal
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kardiak output
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

V. RENCANA KEPERAWATAN
1. Penurunan kardiak output berhubungan dengan kerusakan totot miokard
Tujuan : menurunkan beban jantung
Kriteria : Vital sign dalam batas normal TD: 120/80 mmHg N : 60-100x/mnt, bebas dari gejala gagal jantung, dysnoe menurun.
Intervensi
a. Auskultasi nadi apical, kaji frekwensi, irama jantung.
Rasional : kondisi ini menunjukkan keadaan tachikardi atau bradikardi, regular atau irreguler
b. Catat bunyi jantung, palpasi nadi perifer, pantau tekanan darah
Rasional : penuruanan kardiak output tampak pada nadi, dan tekanan darah
c. Kaji kulit terhadap pucat, dan sianosis
Rasional : pucat indikasi penurunan perfusi perifer, cyanosis karena kongesti vena
d. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan sediaan oksigen untuk miokard
e. Tinggikan kaki, hindari tekanan tekanan pada bawah kulit lutut
Rasional : menurunkan statis vena, dan insiden thrombus
f. Berikan obat sesuai instruksi/kolaborasi : diuretika, morphin, vasodilator
Rasional : menurunkan preload dan afterload

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kardiak output
Tujuan : pasien dapat melakukan kegiatan sehari-hari
Kriteria : dapat berpartisipasi dalam beraktivitas, dapat memnuhi kebutuhan sendiri, vital sign normal selama aktivitas.
Intervensi
a. Periksa vital sign sebelum dan segera setelah latihan.
Rasional : hipotensi ortostatik dapat terjadi saat aktivitas
b. Catat respon kardiopulmonal terhadap aktivitas
Rasional : penurunan miokard untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas
c. Kaji penyebab kelemahan
Rasional : kelemahan dapat terjadi karena efek obat
d. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas
Rasional : kelebihan aktivitas meningkatkan dekompensasi jantung
e. Berikan bantuan dalam aktivitas, selingi aktivitas dengan istirahat
Rasional : aktivitas tanpa mengurangi stress miokard/kebutuhan oksigen berlebihan
f. Kolaborasi program rehabilitasi jantung/aktivitas
Rasional : peningkatan aktivitas bertahap menghindari kerja jantung berlebihan


DAFTAR PUSTAKA

Ruhyanudin Faqih (2006), Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler, UMM Press, Malang

Smeltzen SC (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner and Suddarth edisi 8 Vol.2, EGC, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar