pose bersama di sela kuliah

pose bersama di sela kuliah
kuliah kv

adil

adil
kuliah kv

jujur

jujur
kuliah kv

Jumat, 28 Mei 2010

KEPERAWATAN PJK

LAPORAN PENDAHULUAN
PENYAKIT JANTUNG KORONER ( PJK )


I. Definisi : kondisi patologis yang terjadi dengan penimbunan abnormal lipid atau bahan lemak dan jaringan fibrosa pada dinding pembuluh darah sehingga mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi arteri yang menyebabkan penurunan aliran darah ke jantung sehingga terjadi ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan O2 jantung.
II. Faktor Resiko
A. Yang dapat diubah
• Peningkatan lipid serum
• Hipertensi
• Merokok
• Obesitas
• Konsumsi Alkohol
• Kadar Kolesterol
• Hiperlipidemia
• Obesitas
• Diabetes
• Diet: tinggi lemak jenuh, tinggi kalori
• Infeksi
• Pembekuan darah
• Aktivitas fisik
B. Yang tidak dapat diubah
• Usia Umur lebih dari 40 tahun
• Jenis kelamin insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause
• Hereditas
• Ras: insiden pada kulit hitam lebih tinggi
III. klasifikasi
A. angina stabil
keluhan nyeri dada akibat gangguan pasokan darah miokard sebagai konsekuensi dari stenosis baik tetap atau dinamis, hilang dengan istirahat.
B. angina tidak stabil
nyeri dada dengan frekuensi dan keparahan yang meningkat, periode serangan > 20 menit dan hanya hilang sebagian dengan pemberian nitrat.
C. iskemia tanpa gejala
adanya depresi segmen st >1mm tanpa disertai gejala yang menyertai dan terdapat kelainan metabolism miokard yang reversibel tomogarafi emisi position ( PET ). Jarang terdeteksi bila timbul gejala biasanya sudah tidak tertolong.
D. Angina varian Prinzmetal
Adalah gejala angina saat istirahat dan adanya elevasi segmen ST pada EKG.
E. IMA
Adanya keluha nyeri dada >30 menit menjalar ke punggung dan lengan kiri dan tidak berkurang dengan istirahat dan pemberian nitrat.
IV. Gejala
• Nyeri dada
• Sesak nafas
• Gangguan kesadaran
V. Patofisiologi
Apabila keadaan plak ateroma pada arteria koronaria menjadi tidak stabil, misalnya mengalami perdarahan, rupture atau terjadi fisura, sehingga terbentuk thrombus di daerah plak yang menghambat aliran darah koroner dan terjadi serangan PJK. PJK datangnya tidak tentu tergantung jenisnya, dapat terjadi pada waktu penderita sedang melakukan kegiatan fisik atau dalam keadaan istirahat, dan gejalanya bervariasi tergantung bentuk besar kecil dan keadaan thrombus. Selama berlangsungnya proses agregasi, platelet melepaskan banyak ADP, tromboksan A2 dan serotonin. Ketiga substansi ini akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah koroner yang aterosklerotik sehingga suplai darah dan oksigen ke miokard berkurang yang mengakibatkan iskemia miokard. Iskemia miokard menyebabkan peningkatan metabolisme anaerob dan peningkatan produksi asam laktat sehingga timbul angina pektoris. Apabila iskemia berlangsung lebih dari 30-45 menit akan menyebabkan kerusakan seluler yang permanen.

VI. Pemeriksaan Diagnostik
A. EKG
 Adanya gelombang Q patologis
 Segmen ST elevasi
 T inversi ataupun depresi
B. Laboratorium
 Kenaikan enzim jantung : CKMB, LDH, AST
 Elktrolit : Hipokalemi atau Hiperkalemi
 Kenaikan Sel Darah Putih :
 Hiperkolesterol Hiperlipidemia
 Perubahan nilai HDL dan LDL
 Kenaikan Trigliserida
C. Foto Rotgen
Bisa terjadi cardiomegali

D. Angiorafi Koroner
Untuk melihat kepatenan, artei koronaria, lokasi sumbatan dan memastikan kekuatan otot jantung
E. Echocardiogram
Bisa terjadi kelainan katub dan dilatasi ruang jantung
VII. Penatalaksanaan Medis
A. Umum
 Perubahan gaya hidup ( stop merokok dan alcohol )
 Diet dan penurunan berat badan
 Olahraga teratur
B. Terapi spesifik
 Aspirin
 Nitrat
 β bloker
 antagonis kalsium
 analgesic
 anti platelet
 antikoagulan
 trombolitik
 penghambat ACE
 terapi penurunan lipid
 obat lain tergantung gejala
C. Revaskulerisasi koroner
 Tandur alih pintas arteri koroner ( coronary artery bypass grafting )
Penggantian arteri koroner yang tersumbat dengan vena atau arteri mamare
 Angioplasty ( stent koroner )
Pemasangan stent pada arteri yang tersumbat sehingga aliran darah kembali lancer.
 Percutaneus and trans myocardial revascularization
Pembuatan saluran berdiameter 1-2 mm langsung dari ventrikel kiri dengan menggunakan laser karbon dioksida.
VIII. Pengkajian
A. Keluhan utama
Nyeri dada dan perasaan sulit bernafas
B. Riwayat penyakit sekarang
Nyeri setelah beraktivitas dan tidak berkurang dengan pemberian nitrigliserin.
Nyeri seperti tertekan/diremas
Nyeri di area anterior/ precordial/ sub sterna menjalar ke lengan, wajah, rahang, rahang, laher, punggung, dan epigastrium.
Skala nyeri 4 – 5 ( skala 0 – 5 )sedang / berat.
Nyeri timbul mendadak
Durasi <15 menit, >30 menit
Nyeri saat istirahat
C. Riwayat penyakit dahulu
Nyeri dada tiba – tiba hilang saat istirahat
Hipertensi
DM
D. Riwayat Penyakit Keluarga :
Adanya anggota keluarga yang meninggal karena penyakit jantung ( mungkin disebut angin duduk )
Hipertensi pada keluarga
DM
E. Riwayat pekerjaan dan Kebiasaan :
Minum Alkohol
Merokok ( sejak kapan, berapa batang per hari,jenis rokok )
Makan Makanan cepat saji

F. Keadaan Umum
Biasanya kesadaran compos mentis dan mungkin sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi sistem saraf pusat.
G. B1( breathing )
Sesak dan keluhan napas seperti tercekik, juga terdapat sesak kardia, tanda-tanda edema paru ( ronchi )
H. B2 ( bleeding )
Inpeksi : inspeksi adanya parut
Palpasi : denyut nadi perifer normal pada angina stabil, selama serangan akut bisa takikardi, AF atau VF.
Auskultasi : bisa didapat split patologis. Kadang-kadang didapatkan aritmia, gallop, tekanan darah biasanya menurun atau meningkat tergantung tingkat keparahan.
Perkusi : tidak ada pergeseran jantung bila tidak ada komplikasi.
I. B3 ( brain )
Kesadaran composmentis atau menurun. Pengkajian obyektif berupa wajah meringis, perubahan postur tubuh, menangis, merintihdan menggiliat.
J. B4 ( bladder )
Perlu dilihat adanya oliguria yang mungkin didapat merupakan tanda awal syok kardiogenik.
K. B5 ( bowel )
Adanya nyeri menyebabkan respon mual dan muntah. Palpasi abdomen didapatkan nyeri tekan di empat kuadran merupakan penjalaran nyeri. Penurunan peristaltic usus merupakan tanda kardial IMA.
L. B6 ( bone )
Aktivitas gejala : kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur, gerak statis, dan jadwal olahraga tidak teratur.
Tanda : takikardi, dispneu saat istirahat/ aktivitas dan kesulitan melakukan tugas perawatan diri.
IX. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen ke miokard sekunder dengan adanya sumbatan.
2. Aktual / resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan kontraktilitas ventrikel kiri.
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan alveolar ( edema paru )
3. Aktual / resiko gangguan perfusi perifer berhubungan dengan menurunnya curah jantung.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan perfusi perifer sekunder penurunan suplai oksigen miokard.
5. Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian atau perubahan status kesehatan.

X. Rencana asuhan keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri ditandai dengan :
• nyeri dada dengan / tanpa penyebaran
• wajah meringis
• gelisah
• delirium
• perubahan nadi, tekanan darah.
Tujuan
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam
Kriteria Hasil:
• Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2, atau dari 2 ke 1
• ekpresi wajah rileks / tenang, tak tegang
• tidak gelisah
• nadi 60-100 x / menit,
• TD 120/ 80 mmHg
Intervensi :
• Observasi karakteristik, lokasi, waktu, dan perjalanan rasa nyeri dada.
• Anjurkan pada klien menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat.
• Bantu klien melakukan tehnik relaksasi, misalnya nafas dalam, perilaku distraksi, visualisasi, atau bimbingan imajinasi.
• Pertahankan oksigenasi dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit )
• Monitor tanda-tanda vital ( nadi & tekanan darah ) tiap dua jam.
• Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam pemberian analgetik atau morphin.
2) Aktual / resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan kontraktilitas ventrikel kiri.
Tujuan :
Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS.
Kriteria Hasil :
• Tidak ada edema
• Tidak ada disritmia
• Haluaran urin normal
• TTV dalam batas normal
Intervensi :
• Pertahankan tirah baring selama fase akut
• Kaji dan laporkan adanya tanda – tanda penurunan COP, TD
• Monitor haluaran urin
• Kaji dan pantau TTV tiap jam
• Kaji dan pantau EKG tiap hari
• Berikan oksigen sesuai kebutuhan
• Auskultasi pernafasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi
• Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis
• Berikan makanan sesuai diitnya
• Hindari valsava manuver, mengejan ( gunakan laxan )
3) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan alveolar ( edema paru ) ditandai dengan :
• Dispnea berat
• Gelisah
• Sianosis
• Perubahan GDA
• Hipoksemia
Tujuan :
Oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal (Pa O2 < 80 mmHg, Pa CO2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg ) setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS.
Kriteria hasil :
• Tidak sesak nafas
• Tidak gelisah
• GDA dalam batas Normal ( Pa O2 < 80 mmHg, Pa CO2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg )
Intervensi :
• Catat frekuensi & kedalaman pernafasan, penggunaan otot bantu pernafasan
• Auskultasi paru untuk mengetahui penurunan / tidak adanya bunyi nafas dan adanya bunyi tambahan misal krakles, ronki dll.
• Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas misalnya , batuk, penghisapan lendir dll.

• Tinggikan kepala / tempat tidur sesuai kebutuhan / toleransi pasien
• Kaji toleransi aktifitas misalnya keluhan kelemahan/ kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah.
4) Aktual / resiko gangguan perfusi perifer berhubungan dengan menurunnya curah jantung.
ditandai dengan :
• Daerah perifer dingin
• EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu
• RR lebih dari 24 x/ menit
• Kapiler refill lebih dari 3 detik
• Nyeri dada
• Gambaran foto torak terdpat pembesaran jantung & kongestif paru ( tidak selalu )
• HR lebih dari 100 x/menit, TD > 120/80 AGD dengan : pa O2 < 80 mmHg, pa CO2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg
• Nadi lebih dari 100 x/ menit
• Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK, AST, LDL/HDL
Tujuan :
Gangguan perfusi jaringan berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di RS.
Kriteria Hasil:
• Daerah perifer hangat
• Tidak sianosis
• Gambaran EKG tak menunjukan perluasan infark
• RR 16-24 x/ menit
• Tidak terdapat clubbing finger
• Kapiler refill 3-5 detik
• Nadi 60-100x / menit
• TD 120/80 mmHg
Intervensi :
• Monitor Frekuensi dan irama jantung
• Observasi perubahan status mental
• Observasi warna dan suhu kulit / membran mukosa
• Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya
• Kolaborasi : berikan cairan IV sesuai indikasi
• Pantau pemeriksaan diagnostik / dan laboratorium misal EKG, elektrolit , GDA (Pa O2, Pa CO2 dan saturasi O2 ). Dan pemberian oksigen

5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan perfusi perifer sekunder penurunan suplai oksigen miokard.
Tujuan :
Terjadi peningkatan toleransi pada klien setelah dilaksanakan tindakan keperawatan selama di RS
Kriteria Hasil :
• Klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan klien
• Frekuensi jantung 60-100 x/ menit
• TD 120-80 mmHg
Intervensi :
• Catat frekuensi jantung, irama, dan perubahan TD selama dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur )
• Batasi aktifitas pada dasar nyeri dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat.
• Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktifitas, contoh bengun dari kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1 jam setelah mkan.
• Kaji ulang tanda gangguan yang menunjukan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada dokter.

6) Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian atau perubahan status kesehatan.
Tujuan :
Cemas hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS
Kriteria Hasil :
• Klien tampak rileks
• Klien dapat beristirahat
• TTV dalam batas normal
Intervensi :
• Kaji tanda dan respon verbal serta non verbal terhadap ansietas
• Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
• Ajarkan tehnik relaksasi
• Minimalkan rangsang yang membuat stress
• Diskusikan dan orientasikan klien dengan lingkungan dan peralatan
• Berikan sentuhan pada klien dan ajak kllien berbincang-bincang dengan suasana tenang
• Berikan support mental
• Kolaborasi pemberian sedatif sesuai indikasi.


TINJAUAN PUSTAKA :
Adipranoto, Jeffrey D. 2006. Penyakit Jantung Koroner dalam Standar Diagnosis dan Terapi Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Surabaya. SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FK Unair RSU dr. Soetomo
Anonymous. 2009. Angina Pektoris. http://blog.asuhankeperawatan.com/blog /2009/05/27 /angina-pektoris/ . Diakses pada tanggal 20 desember 2009

Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta. Salemba Medika.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar